erita
11

Burung Kakatua Jambul diselundupkan dalam botol air mineral




Lebih dari 24 kakatua jambul kuning yang termasuk salah satu spesies yang terancam punah diselamatkan oleh polisi setelah ditemukan dimasukkan dalam botol plastik air mineral yang hendak diselundupkan secara ilegal, Senin (4/3/2015)

Lebih dari 24 kakatua jambul kuning yang termasuk salah satu spesies yang terancam punah diselamatkan oleh polisi.
Burung kakatua tersebut ditemukan dalam keadaan dimasukkan dalam botol plastik air mineral yang hendak diselundupkan secara ilegal, Senin (4/3/2015).
Menurut keterangan yang dihimpun oleh Dailymail, Penyelundup kakatua jambul kuning memasukkan mereka ke dalam botol agar para penyelundup bisa melewati petugas bea cukai di Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya.
Sementara itu, dilaporkan sekitar 40 persen burung kaktua jambul kuning mati selama proses penyelundupan, perekornya dijual 659 Poundsterling atau sekitar Rp 12.3 juta.
Sementara itu, berbicara mengenai kakaktua jambul kuning. Populasi Kakatua Kecil Jambul Kuning semakin terancam punah.
Menurut data IUCN Redlist (2007), populasi burung ini di alam bebas diperkirakan tidak lebih dari 7.000 ekor saja.
3.200-5.000 ekor terdapat di pulau Sumba, 500 ekor di pulau Komodo, 200-300 ekor di Timor Leste, 200-300 ekor di Sulawesi, 20-50 di Timor Barat, 40-70 di Flores, 50-100 di Sumbawa, 100 di Pulau Rinca dan sekitar 700 burung di berbagai pulau lainnya.
Bahkan berdasarkan survei Bird Life Internasional, populasi burung berjambul kuning ini jauh lebih sedikit.
Seperti populasi anak jenis C. s. abbotti yang endemik Masalembu (2008) tinggal 10 ekor dan C. s. sulphurea diperkirakan hanya tinggal 24 ekor saja.


Sedangkan dua anak jenis lainnya (C. s.citrinocristata dan C. s. parvula) diperkirakan populasi masing-masing masih di atas 500-an ekor.
Populasinya yang semakin menurun dan nyaris terancam punah membuat membuat IUCN Redlist memasukkan burung ini dalam status konservasi Critically Endangered sejak 2000.


CITES juga telah memasukkan burung ini dalam daftar Apendik I sejak 2005.
Dan oleh pemerintah sendiri, burung Kakatua Kecil Jambuil Kuning (Cacatua sulphurea) termasuk binatang yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.
Meskipun demikian, penurunan populasi masih terus terjadi. Penurunan ini diakibatkan oleh perburuan dan perdagangan bebas.


Tidak sedikit burung Kakatua Kecil Jambul Kuning yang ditangkap dari alam liar kemudian di jual ke luar negeri.
Padahal burung ini telah terdaftar dalam CITES Apendiks I yang artinya sama sekali tidak boleh diperdagangkan secara komersil.
Hal ini masih diperparah dengan degradasi habitat (kerusakan hutan) yang terjadi di Indonesia.

Kakatua jambul kuning juga berkembang biak sangat lambat dan bertelur hanya sekali setahun. Mereka dapat menghasilkan dua telur pada suatu waktu
Previous
Next Post »