erita
11

ini dia kelakuan nakal anggota TNI indonesia

ini dia kelakuan nakal anggota TNI indonesia Menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) seharusnya bisa memberi contoh baik kepada rakyat. Sayangnya tidak sedikit di antara mereka justru membuat kesal banyak warga.

Bagi sebagian masyarakat sosok TNI memang menakutkan. Ya, ini dikarenakan sebagai abdi negara kehidupan mereka tidak lepas dari siksaan latihan berperang.

Tentu saja tiap latihan itu membuat TNI makin garang. Bahkan tidak sedikit di antara mereka justru meluapkan saat bergaul dengan masyarakat sipil.

Sehingga tidak sedikit kelakuan tentara itu jadi ugal-ugalan ketika keluar markas. Bahkan membuat sebagian masyarakat sipil menjadi korban.

Padahal sebagai TNI yang berasal dari rakyat seharusnya mampu melindungi rakyat. Sayangnya masih ada para tentara justru mencoreng nama instansinya.

Berikut, merdeka.com merangkum kelakuan ugal-ugalan TNI yang bikin warga emosi, Jumat 


1.Jadi maling motor


Merdeka.com - Seorang oknum TNI berpangkat Sertu dengan inisial AS (27) ditangkap jajaran Satreskrim Polres Purwakarta, saat berusaha mencuri kendaraan bermotor di Purwakarta, Rabu (25/6/2008) sekira pukul 05.00 WIB.

Dalam kartu tanda anggotanya, oknum TNI itu disebutkan bertempat tinggal di asrama TNI Pusdikav, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Polisi juga menangkap Asep alias Botak (32), warga Jalan Kopo Sayati, Bandung yang membantu aksi pencurian tersebut.

Kasatreskrim Polres Purwakarta, AKP I Putu Yuni Setiawan, mengatakan pihaknya mendapat laporan dari masyarakat mengenai aksi pencurian sepeda motor Honda Tiger di rumah Asep Dulpiko (32), warga Perumahan Griya Mukti Nomor 13, Ciwareng, Purwakarta.

"Setelah mendapat laporan itu, sebanyak 15-20 anggota kami langsung turun ke TKP (tempat kejadian perkara) dan menangkap kedua pelaku pencurian yang ternyata salah satunya adalah oknum anggota TNI," katanya.

Saat penangkapan, tidak ada perlawanan dari pelaku karena polisi dibantu oleh warga setempat.

Namun, oknum TNI itu sempat mengungkapkan jati dirinya sebagai anggota TNI. "Saya anggota TNI. Saya anggota TNI. Begitu kata pelaku saat akan dilakukan penangkapan," katanya.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti, yakni gunting besar, tas berisi alat tulis, dan sepeda motor Yamaha Jupiter bernopol T-5725-AS yang dipakai pelaku dalam melakukan aksinya.

Kedua pelaku pencurian tersebut ditahan di rumah tahanan Polres Purwakarta. Namun, untuk oknum TNI kasusnya akan dilimpahkan ke Corps Polisi Militer (CPM).

Ia mengatakan, kedua pelaku mengaku sudah melakukan aksi curanmor di Purwakarta sebanyak lima kali dan mereka diduga merupakan bagian dari gembong curanmor yang biasa beraksi di sekitar Purwakarta.

"Dengan penangkapan itu, kami akan melakukan pengembangan lebih lanjut," katanya.

2.Bunuh dua balita dan ibu kandung


Merdeka.com - Kasus pembunuhan dua balita dan ibunya di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, pada 27 Agustus 2015 akhirnya terungkap dengan tersangka Prada SJ, seorang anggota TNI Angkatan Darat, yang telah ditahan.

"Pelaku SJ adalah anggota Kompi E Batalyon Infanteri 752 Wira Yudha Sakti itu, sudah ditahan di Pomdam XVII/Cenderawasih Jayapura," kata Komandan Resor Militer 171 Praja Vira Tama Sorong Brigjen TNI Widi Andaru yang dihubungi, dari Manokwari, seperti dilansir Antara, Selasa (22/9).

Dia mengatakan, dari hasil penyelidikan kepolisian disertai barang bukti dan keterangan saksi, SJ diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan dua balita dan ibunya di Bintuni tersebut.

Danrem mengungkapkan SJ telah diserahkan oleh Detasemen Polisi Militer Sorong kepada Pomdam XVII/Cenderawasih Jayapura guna proses hukum lebih lanjut.

Herman, ayah dua balita dan suami korban pembunuhan yang memberikan keterangan terpisah, meminta agar pelaku dihukum berat. "Saya minta agar pelaku yang diduga oknum anggota TNI tersebut diadili secara terbuka dan kalau bisa diadili di Kabupaten Teluk Bintuni," kata Herman.

3.Hamili dan bunuh pacarnya


Merdeka.com - Prajurit Dua (Prada) Mart Azzanul Ikhwan (23) menjalani sidang perdananya di Pengadilan Militer II-09 Bandung, Rabu (3/4). Terdakwa yang merupakan anggota kesatuan Yonif 303/13/1 Kostrad Kabupaten Garut terancam hukuman bui seumur hidup.

Dalam dakwaan yang dibacakan oleh Oditur Letkol CHK Siabudin dan Mayor Sus Asep Saeful Gani, bahwa pria 23 tahun itu dijerat pasal berlapis, yakni dakwaan primer pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider 388 jo pasal 55 KUHP ayat 1 dan Lebih Subsider 351 KUHP.

Ancaman paling berat yakni hukuman bui seumur hidup sedangkan paling rendah yakni 20 tahun penjara sebagaimana diatur 340 KUHP yang berisikan, "Barangsiapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dengan berencana, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun."

Dalam Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Letkol CHK Sugeng Sutrisno SH, Mart tampak tegar mendengarkan dakwaan. Mart lengkap dengan pakaian dinas loreng.

Mart pertama kali mengenal sang kekasih Shinta pada November 2011 lalu ketika menjalani kegiatan test kesehatan. Sedangkan Shinta merupakan mahasiswi perguruan tinggi kebidanan di Garut.

Di situ awal mula Shinta dan Mart memadu kasih hingga akhirnya tak lama dari pertemuan itu Mart mengajak Shinta ke kostannya.

"Merasa suka saling suka, mereka akhirnya melakukan hubungan badan," kata Oditur Letkol CHK Siabudin dalam pembacaan dakwaan.

Setelah itu hubungan mereka justru semakin renggang karena Mart yang disibukkan dengan aktivitas kedinasannya. Hingga akhirnya 14 bulan komunikasi pun jarang dilakukan.

Namun pada Februari 2013 Shinta dan sang ibu, Onah coba menghubungi Mart untuk memintai pertanggungjawaban karena Shinta hamil.

Mart merasa tak percaya ketika mendengar penjelasan Shinta, karena hubungan yang sudah dilakukan sudah lebih dari satu tahun. Kiranya Shinta bisa melahirkan pada September 2012 dari hubungannya. Sedangkan Shinta yang hamil 8 bulan baru tiba Februari 2013 lalu.

Atas dasar itulah terdakwa melakukan pembunuhan pada Shinta dan Onah pada 11 Februari 2013 lalu. Mart membunuh kedua korban karena dituntut pertanggungjawaban atas kehamilan Shinta.

4.Suka ejek kekurangan orang


Merdeka.com - Tak terima selalu diejek dengan kata-kata 'bongkok', Andri alias Unyil (38) naik pitam. Dia nekat menusuk dada seorang anggota TNI bernama Adi Pranoto (27) pakai pisau.

Takut dikejar-kejar polisi, Unyil didampingi keluarganya, menyerahkan diri ke kantor polisi. Dia mengaku bersalah dan bertanggung jawab atas perbuatannya tersebut.

Kepada petugas, Unyil yang beralamat di Jalan Gubernur H Bastari, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, ini menuturkan, kejadian itu dipicu kekesalannya terhadap korban yang sering mengejek kekurangan fisiknya. Puncaknya saat mereka bertemu tak jauh dari kediamannya, Selasa lusa lalu.

Saat itu, Unyil dan korban terlibat cekcok mulut karena tersangka kesal dipanggil dengan sebutan bongkok. Saking emosinya, dia menusukkan pisau miliknya ke dada korban. Beruntung, nyawa korban bisa selamat dan dirawat di rumah sakit.

"Kesal pak, dia selalu ejek saya bongkok. Kalo sekali tidak masih, ini berkali-kali," ungkap tersangka Unyil di Mapolresta Palembang, Kamis (8/10).

Usai kejadian, Unyil memilih melarikan diri. Dia kembali ke rumah setelah keluarganya membujuknya agar menyerahkan diri ke kantor polisi.

"Saya takut pak, saya salah, saya siap tanggung jawab," ujarnya.

Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Maruly Pardede mengatakan, tersangka diserahkan keluarganya, Rabu (7/10) malam. Tersangka tetap akan menjalani proses hukum sesuai perundang-undangan.

"Sekarang masih kita periksa, termasuk korban yang masih di rumah sakit. Motifnya diduga karena sakit hati," terang Maruly.

5.Bawa granat buat merampok


Merdeka.com - Empat perampok spesialis kendaraan pengangkut barang diringkus polisi di Medan, Rabu (6/2). Seorang di antaranya anggota TNI.

Serda Supriadi, anggota TNI AD yang bertugas di Babinsa, Kodim 0104, Aceh Timur, ditangkap bersama tiga warga sipil, yakni Aidil (34), Masdian (36), dan Sandi Agusman (40). Mereka ditangkap petugas Polresta Medan di sekitar Jalan Medan-Binjai km 11, sekitar pukul 03.00 WIB.

Penangkapan terhadap Supriadi bermula dari perampokan terhadap Gemal Pasha Tarigan (32) dan Roni (30), keduanya warga Bambalan, Langkat. Pick up Suzuki APV pelat nomor BK 9048 PI berisi muatan ikan yang akan dibawa ke Simpang Limun, Medan, dirampas para pelaku di Jalan Medan-Binjai km 14.

Para pelaku yang mengendarai Toyota Innova semula menghentikan kendaraan yang dikemudikan Kemal. Menurut korban, ada lima orang yang menghentikan mereka dan mengaku sebagai petugas kepolisian.

Sambil menodongkan senjata airsoft gun, kelima orang ini berpura-pura melakukan pemeriksaan. "Mereka juga menunjukkan granat yang dilakban," jelas Roni.

Mereka lalu menuduh Gema dan Roni membawa ganja. Selanjutnya, mereka memindahkan keduanya ke mobil Innova. Sedangkan seorang di antara pelaku menguasai kendaraan korban.

Di tengah jalan, sekitar Km 11, Gema dan Roni melawan. Pergumulan terlihat warga yang kemudian menghentikan Toyota Kijang Innova yang mereka tumpangi. Setelah polisi datang, 4 di antara 5 perampok itu pun diamankan.

"Kita juga amankan barang bukti berupa airsoft gun, sangkur, dua granat manggis, alat isap sabu, dan STNK kendaraan," kata Wakapolresta Medan AKBP Pranyoto.
Previous
Next Post »