erita
11

inilah Hoax Aceh Yang Anda Wajib Tahu

inilah Hoax Aceh Yang Anda Wajib Tahu Hah!! Aceh??!!! Ngapain kesana, kan bahaya, itu Daerah Perang, tar di culik, apalagi Orang Aceh Itu Rasis dan Kasar, tar ente di ajak cimeng.
Yah begitulan reaksi2 orang pas denger Aceh. Gue gak ngerti kenapa mereka bisa komen kayak gitu, padahal mereka belom pernah kesana dan jg gak kenal sama orang yg pernah kesana.

Meanwhile…klo baca travel blog dan jg denger komen orang yg pernah ke Aceh, smua nya pada bilang kebalikan nya. Aceh bagus, orang nya ramah banget, aman, makanan enak, dll.

Jadi yang mana yang bener??? 



Berikut 5 Hoax Aceh Yang Anda Wajib Tahu

Sebagai daerah yang sedang tumbuh berkembang, Aceh punya tugas berat untuk meyakinkan orang-orang untuk datang berkunjung kemari. Padahal melihat potensi wisatanya, tidak kalah hebat dengan lokasi lainnya di Indonesia. Namun terkadang, ada banyak alasan menghambat langkahmu menuju titik awal Indonesia ini. Bisa jadi karena kekurangan informasi, atau bisa jadi karena kamu terlalu termakan anggapan salah dari luar sana. Sudah sepatutnya, beragam anggapan itu harus dikroscek terlebih dahulu. Jangan serta merta ditelan mentah-mentah. Sebab, terlalu takut dengan hal sebenarnya tidak kamu ketahui juga tidak bijak.
Nah, berikut ini, ada beberapa anggapan keliru tentang Aceh yang sepatutnya sudah bisa kamu ubah.

Aceh dan Ganja



Aceh memang memiliki alam yang subur. Sehingga seperti lagunya Koes Ploes, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Entah benar atau hanya mitos, ada seorang teman Coffee Roaster dari Belgia mengatakan kualitas ganja Aceh adalah salah satu yang terbaik di dunia. Itu katanya ya.

Dan memang ganja dulunya adalah salah satu tanaman biasa dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dikenal dengan istilah Linto Camplie/Lakoe Camplie, yang secara harafiah bisa diterjemahkan sebagai ‘suami/pasangannya cabai’. Alasannya sederhana, kebun cabai yang ditanami beberapa batang ganja memiliki hasil panen yang lebih bagus. Buahnya lebih besar dan secara alami bebas gangguan hama. Ganja juga dulunya adalah herba alami yang dipergunakan sebagai obat-obatan dan bumbu masakan. Hal yang sebenarnya normal di banyak peradaban di masa lalu. Hingga kemudian ganja disalah gunakan dan dikategorikan sebagai narkotika.

Tapi tidak seperti yang disangka orang, ganja tidak semudah itu ditemukan. Tidak ada ganja yang dijual bebas. Dan sama seperti di tempat lain, menanyakan, menjual atau menyatakan membeli ganja, akan berurusan dengan polisi.

Mie Aceh




Sebenarnya baru beberapa tahun terakhir ini ada yang menjual mie Aceh. Saya masih ingat beberapa tahun lalu, dengan kebingungan seorang turis di salah satu warung kopi. Yang dengan pasrah akhirnya bertanya. “Maaf mas, dimana ya ada yang jual mie Aceh? Saya sudah cari-cari tapi tidak ada satu kedai pun yang menjual mie Aceh.”

Ya jelas tidak ada. Karena istilah mie aceh, hanya dikenal di luar Aceh. Di Aceh sendiri, semuanya hanya tahu mi/mie. Jangan harap akan ada warung yang bertuliskan ‘mie aceh krueng raya’ misalnya. Semua warung mi itu dikenal dengan nama atau panggilan pemiliknya; Mi Cek Baka, Mie Razali, Mie Pak Uus, Mie Ayah, Mie Bang Nasir. Atau nama tempat; Mie Simpang Lima, Mie Beureneun, Mie Indrapuri, Mie Simpang Jantho. Atau merk dagang seperti Mie Andista, Mie Turis.

Aceh itu Daerah Perang.



Bicara Aceh. Tidak akan lepas dengan sejarah pahit. Sejak dari sebelum menjadi bagian dari Indonesia, Aceh sebagai kesultanan, adalah salah satu wilayah yang paling sering menghadapi peperangan. Karena posisinya, Aceh termasuk penjaga wilayah selat malaka, dalam menghadapi invasi asing.

Setelah kemerdekaan, sejarah mencatat, penghianatan dan ingkar janjinya pemimpin negara, yang melebur Aceh dengan Sumatera Utara menjadi Sumatera Timur, adalah titik awal sejarah perang dan konflik berdarah di Aceh. Sampai dengan tahun 2005. Dimana perjanjian damai disepakati.

Sekarang Aceh sudah sangat damai. Kehidupan dan kenyamanan berkembang. Di malam hari, beragam tempat wisata kuliner ramai dikunjungi. Pusat perbelanjaan yang terang benderang dan ramai. Wisata alam seperti di Sabang dan banyak tempat lainnya di Aceh. Hotel yang ramai dan ramah. Pantai dan gunung. Wisata alam dan kuliner, sejarah dan budaya.

Aceh bukan lagi wilayah perang.


Orang Aceh Itu Rasis dan Kasar.



Ini hoax yang paling menyebalkan. Dan itu semakin menguat ketika ada beberapa pernyataan di media sosial yang mengatakan seolah semua orang yang ke Aceh, apalagi menetap di Aceh harus bisa bahasa Aceh.

Ada satu dua memang yang kesukuannya terlalu tinggi berlebihan, tapi jujur saja itu terjadi di semua tempat di dunia.

Faktanya, di Aceh ini ada bebrapa suku selain suku Aceh. Dan di wilayah suku-suku tersebut tentuunya bahasa yang digunakan adalah bahasa suku dominan, seperti bahasa Gayo di dataran tinggi Gayo, atau bahasa khas Singkil di Singkil. Seperti juga bahasa Aceh di wilayah yang penghuninya dominan suku Aceh.

Ini kan sama dengan mendengar percakapan dalam bahasa jawa di Jawa, atau mendengar orang berbahasa inggris di London.

Kasar? Orang Aceh itu memang keras. Kadang candaannya juga keras. Tapi bukan berarti kasar tanpa tata krama. Bahkan di Aceh, tidak pernah terdengar kejadian ada pencopet dibakar hidup-hidup, atau dipukuli sampai cedera parah.

Kenyataannya orang Aceh sangat ramah kepada pengunjung. Bahkan dalam adat Aceh ada istilah pemulia jame, memuliakan tamu. Bila kita bertamu, dan menginap, jamuan makan untuk kita pastilah lebih dari pada kebiasaan makan sehari-hari. Bahkan dengan berat hati, terpaksa saya akui, kadang kala malah lebih memuliakan tamu dibanding keluarga sendiri hehehe

Warung Kopi dan Pemalasnya Orang Aceh.



Beberapa tahun lalu, ada seorang teman dari luar Aceh datang berkunjung. Dan mengatakan bahwa ternyata benar orang Aceh pemalas. Pasalnya sederhana, ia melihat warung kopi yang penuh dan ramainya orang duduk sampai berjam-jam.

Sekedar info nih. Salah kalau menganggap begitu.

Jauh sebelum seorang motivator bisnis di Amerika memperkenalkan konsep power lunch yang memberdayakan waktu makan siang untuk membahas kesepakatan bisnis, warung kopi di Aceh sudah menggunakan konsep sejenis sejak lama.

Ngopi, adalah salah satu waktu membahas bisnis yang lazim bagi orang Aceh. Bukan hal aneh di Aceh proyek dan perencanaan umumnya, dibahas sambil ngopi. Bahkan ada warung kopi yang menyediakan materai sampai formulir ‘kontrak’ sederhana. Bukan hanya itu. Keude kupi (warung kopi) juga sentra informasi untuk berbagai macam bisnis. Dari motor dijual sampai tanah dan rumah dijual. Dan melengkapi fungsi keude kupi adalah fakta bahwa disinilah berbagai informasi beredar dengan cepat, sehingga para aktivis sampai anggota dewan selalu menyempatkan untuk ngopi sebagai tempat mencari kabar. Hal-hal yang tidak akan dibahas di koran atau media formal lainnya.


Anggapan Salah Ini yang Harus Kamu Ubah Sebelum ke Aceh
Sebagai daerah yang sedang tumbuh berkembang, Aceh punya tugas berat untuk meyakinkan orang-orang untuk datang berkunjung kemari. Padahal melihat potensi wisatanya, tidak kalah hebat dengan lokasi lainnya di Indonesia. Namun terkadang, ada banyak alasan menghambat langkahmu menuju titik awal Indonesia ini. Bisa jadi karena kekurangan informasi, atau bisa jadi karena kamu terlalu termakan anggapan salah dari luar sana. Sudah sepatutnya, beragam anggapan itu harus dikroscek terlebih dahulu. Jangan serta merta ditelan mentah-mentah. Sebab, terlalu takut dengan hal sebenarnya tidak kamu ketahui juga tidak bijak.
Nah, berikut ini, ada beberapa anggapan keliru tentang Aceh yang sepatutnya sudah bisa kamu ubah.

1. “Emangnya Aceh udah aman? Bukannya ribut melulu?”
Helloooww, anggapan ini paling ramai tersibak di pikiran orang-orang sebelum ke Aceh. Bisa jadi kamu juga salah satunya. Aceh memang dulunya daerah konflik antara GAM dan RI yang berlangsung hampir 30 tahun lamanya. Saban hari, ada saja kontak senjata dan pertumpahan daerah. Tapi itu dulu! Pasca tsunami, tepatnya di Agustus 2005 GAM-RI menandatangani perjanjian perdamaian di Helsinki, Finlandia. Di usia perdamaian yang menginjak 10 tahun ini, kondisi Aceh jauh lebih tentram dan aman. Tidak ada lagi kontak senjata, tidak ada lagi tentara yang hilir mudik dengan senjata laras panjang, atau sweeping disana sini. Semuanya telah usai. Peristiwa kelam yang telah berlangsung puluhan tahun itu tinggal sejarah. Kondisi Aceh kini persis sama dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Semakin bergeliat dan semakin terbuka terhadap dunia luar. Ketakutan kamu memandang Aceh, sudah harus kamu ubah dari sekarang ya!

2. “Kalau ke Aceh, ntar dikejar-kejar polisi syariah”
Sebagai satu-satunya daerah menerapkan syariat Islam di Indonesia, Aceh tidak seseram bayangan kamu kok. Pelaksanaan syariat Islam disini sangat humanis, tidak menakutkan layaknya yang sering kamu dengar di luar sana. Di Aceh, kehidupan berdenyut hingga larut malam, perempuan juga bebas bekerja, tempat nongkrong asyik banyak, bahkan di Aceh juga sering digelar konser musik. Tapi tentu semua ini tetap menjunjung nilai adat ketimuran, serta keislaman yang telah menjadi kultur masyarakatnya.
Takut dengan polisi syariah?? Selagi kamu tidak salah dan berbuat salah, ngapain harus takut kan? Peran dan keberadaan mereka hampir mirip dengan polisi kebanyakan. Cuma mereka lebih konsen untuk mencegah dan memberantas maksiat.

3. “Ntar kalau ke Aceh, jangan lupa bawa ganja ya!”

Ada yang bilang ganja di Aceh itu salah satu terbaik di dunia. Mungkin bisa jadi karena tanahnya yang subur. Tapi bukan berarti, kalau kamu ke Aceh kamu bisa mendapatkan ganja dimana-mana.
Dulunya, ganja ini termasuk salah satu bumbu dapur masyarakat Aceh untuk mengempukkan daging. Di beberapa tempat, dulunya, pohon ganja juga digunakan untuk menghalau babi hutan dan melindungi tanaman kebun. Namun sekarang dunia berubah. Ganja disalahgunakan untuk hal-hal tak baik dan kini dilarang peredarannya. Jadi salah, jika kamu ke Aceh akan menemukan ganja dimana-mana.
Saya pernah dimention seseorang di twitter, yang katanya, di Aceh itu ganja dijual bebas di warung-warung. Dan lagi-lagi ini anggapan salah. Mungkin maksudnya daun singkong kali ya, bukan ganja. Hehehehe…

4. “Nggak mau ah ke Aceh, nanti tsunami lagi”
Mungkin kamu lupa, datangnya tsunami itu nggak sama kayak turun hujan. Dimana hari mendung, disitu hujan turun. Begitu juga hal sama berlaku untuk tsunami. Bukan berarti, jika gempa datang tsunami langsung menghantam setinggi pohon kelapa. Ada banyak ‘syarat’ untuk hal ini terjadi; kekuatan gempa, kedalaman sumber gempa, jarak sumber gempa dengan daratan, dan sebagainya.
Setelah tsunami 2004 silam, Aceh sebenarnya termasuk daerah aman hingga beberapa ratus tahun ke depan. Sebab, kejadian ini telah melunaskan pertemuan antar lempeng di dasar laut yang mengakibatkan hadirnya bencana besar. Tapi tentu kesiapsiagaan harus tetap ada. Tapi itu bukan berarti harus menjadi takut. Karena hidup di Indonesia, sejak dulu diajarkan harus siap berdamai dengan bencana.

5. “Liburan ke Medan yuk!

“Nggak usah deh, mending ke Aceh aja.”
“Ke Aceh??? Jauhh banget!”
Ampun dah! Obrolan di atas itu sering sekali terdengar. Padahal kalau kamu buka peta dengan baik dan melihat dengan teliti, Aceh dan Medan itu cuma tetanggaan. Persis kayak rumah kamu tetanggaan dengan rumah Pak RT. Jaraknya cuma selemparan batu. Hanya 45 menit naik pesawat, dan 8-9 jam naik bus antar propinsi. Gara-gara kamu menganggap terlalu jauh, akhirnya kamu mikir-mikir dulu untuk datang kemari. Padahal dekat banget kok! Dekatnya itu udah kayak hati kamu dengan kantong baju. Asyek!

6. “Datang ke Aceh harus pake paspor ya?”
Kamu sedang mau ke Aceh, bukan berencana ke Uganda atau ke Zimbabwe. Aceh itu masih dalam kesatuan NKRI. Berkunjung ke Aceh sama halnya kayak kamu berkunjung ke Majalengka, Purwokerto, atau Brebes! Nggak perlu pake visa, lebih-lebih ngurus paspor di kantor imigrasi. Mungkin kamu harus bedain mana Timor Leste dengan Aceh.

Itu beberapa anggapan salah yang sering terdengar, dan mungkin saja menghambat langkah kamu ke Aceh.
Udah nggak salah lagi kan sekarang??
Previous
Next Post »