erita
11

Oh Ini Toh 6 Program TV "Sampah" Versi Terbaru KPI


Ruang tamu yang dulunya menjadi tempat berkumpul bagi keluarga, kini menjadi "sepi". Terkadang TV dibiarkan menyala begitu saja, biar rumah tidak tampak sepi. Sementara adik-adik ane sibuk membangun base COC-nya, nyokap sibuk dengan menyiapkan hidangan di dapur, atau bokap tengah asyik menggosok batu akik kesayangannya. Dan ane, lebih mengurung diri di dalam kamar, sambil menyetel Youtub* atau streaming film dan anime di laptop. Atau keadaannya, hanya nyokap dan adik-adik ane (masih SD saja), yang doyan nonton TV. Itupun di waktu "prime-time"

Ane pun berpikir, TV tampaknya bukan lagi menjadi alat pemikat untuk anggota keluarga ane bisa .bisa kumpul bareng dan saling mengakrabkan. Padahal dulu, meski remote TV dimonopoli oleh nyokap atau adik ane, anggota keluarga ane yang lainnya, termasuk ane, masih tetap menikmatinya acara TV yang disetel tersebut. Atau setidaknya, semua anggota keluarga masih tetap kumpul bareng di ruang tamu yang ada TV-nya.

Lantas apa yang salah dengan TV?

TV tidak lah salah. Itu hanya lah sebuah sebuah perangkat elektronik yang membutuhkan listrik untuk bisa hidup.
Yang salah ialah si pembuat program acara untuk TV ane dan agan-agan lainnya.
Sebagian dari mereka memanfaatkan frekuensi publik untuk menyebarkan acara-acara tidak berkualitas. Akibatnya, yaa seperti keadaan ruang tamu ane itu. Ah yasudahlah.

Naaah, sejalan dengan kegalauan ane tentang kualitas acara TV saat ini, pengawas penyiaran resmi di Indonesia akhirnya bikin penelitian tentang ini juga. Ane kurang tahu yah gan, apakah ini penelitian pertama mereka atau sudah kesekian kalinya. Jadi, mohon dikoreksi yah kaskuser.
Oke langsung aja yah gan, datanya ane kutip dari siaran pers yang resmi dikeluarkan langsung oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan dengan tambahan komentar ane sendiri.

KPI bekerja sama dengan sembilan perguruan tinggi di sembilan kota besar di Indonesia, menyelenggarakan survei indeks kualitas program siaran tv periode Maret hingga April 2015. Data 810 responden diambil untuk menentukan program tv mana saja yang mencapai predikat berkualitas (indeks 4) dari skala 1-5. 

Menurut KPI nih gan, responden dari survei ini adalah para pemirsa ahli yang dipandang mengetahui mengenai program siaran televisi dan bisa menilai program siaran televisi. Respondennya enggak main-main nih gan, meski dari sudut pandang akademisi. 

Sampel program acaranya sendiri yang disoroti KPI ialah semua program yang ditayangkan oleh 15 stasiun TV nasional yang terkenal saat ini dengan rentang jam tayang 05.00 - 24.00 selama dua bulan.

1. Emak Ijah Pengen ke Mekah”
Kategori: Sinetron Tidak Berkualitas





Dari skala 1 sampai 5, indeks sinetron yang plotnya sudah lari dari ide awal ini hanya mencapai angka 2,97. Mendekati 4 saja tidak. Tampaknya penonton Indonesia mulai sadar kalau tontonan ini sudah enggak memiliki relevansi cerita lagi.
Quote:
Emak ijahnya mau sampai kapan gan ke tanah sucinyaaa?

Mungkin rumah produksi-nya sayang buang-buang duit kali yah ngadain syuting di Mekah kali yah :P

2. “Sinema Pintu Tobat” 
Kategori: Sinetron Tidak Berkualitas


Hanya meraih indeks 2,90, aspek terburuk dalam penilaian sinetron ini justru datang dari ketidakmampuannya “membentuk watak, identitas dan jati diri bangsa Indonesia yang bertakwa dan beriman”, demikian menurut survei KPI.

Quote:
Waah ini nih, sinetron "hidayah" model FTV yang sering diputerin siang-siang.
Plot ceritanya itu-itu aja gan. Anak durhaka, mantu durhaka, istri durhaka, ibu tiri, kemudian tobat karena suatu ketika sang antagonis kena apes/azab, dan akhirnya good ending. Gitu-gitu mulu alurnya, cuma ganti cerita utama dan pemeran. Terlebih, peran si galak atau antagonis, selalu diperankan oleh wanita. Bahkan konflik broken-home juga ditayangin di FTV ini. Emak sama ade cewek ane yang masih SD aja sampe kesel melihat tipe sinetron macem gini. Harusnya sutradara yang garap ini, bisa lebih kreatif. Menyedihkan banget memang gan.

3. Manusia Harimau
Kategori (The Winner): Sinetron dengan Kualitas Terburuk



Menurut pihak KPI, bila dicermati dari indikator-indikator penilaian, terlihat sinetron “7 Manusia Harimau” dinilai rendah karena sinetron tersebut tidak membentuk jatidiri dan watak bangsa yang beriman, bermuatan mistik, horor dan kekerasan. Sinetron ini sendiri indeksnya hanya 2,20 atau terendah atau juga jauh di bawah standar yang ditetapkan oleh KPI.

Quote:
Jujur ane enggak nonton nih sinetron nih. Nontonnya yang satunya lagi, yang "vampire kingdom versus wolfman kingdom" . Ane hanya bisa mengatakan, sinetron ini hanya bisa mengikuti plot cerita yang sudah dimulai terlebih dahulu oleh si "penjiplak pihak pertama". Ngerti kan gan maksud ane apa? :P
Twilight-Series, base on Novel karya Stephenie Meyer, masih jauh lebih keren gan, termasuk yang sudah dijadikan film. Eh ada koreksi nih gan, dtang via PM ke ane. katanya, 7 Manusia Harimau itu adaptasi novel lama,karya Motinggo Busye.


4. "Pesbuker"
Kategori: Variety Show Tak Berkualitas



Program TV yang menyontek nama dan logo jejaring sosial terbesar di dunia ini, hanya mendapat indeks dari KPI sebesar 1,92. Dari yang ane lihat dari datanya KPI, nilai aspek terendah yang didapatkan Pesbukers dibanding dua program variety show tak berkualitas lainnya ialah "Menghormati orang dan kelompok tertentu" dan "Tidak bermuatan kekerasan".

Quote:
Bila agan ingin belajar caranya menghina atau mengejek makhluk ciptaan Tuhan yang berwajah sangat tidak ganteng, maka sering-sering lah nonton Pesbukers. Ironis 

5. “Duo Pedang”
Kategori: Variety Show Tak Berkualitas


Duo Pedang yang dibawakan oleh dua penyanyi dangdut jones ini, mendapat indeks KPI sebesar 2,40. Sedikit lebih tinggi memang dari Pesbukers. Ada tiga aspek terendah yang didapat program ini, yakni "Relevansi cerita" dan "Menghormati Keberagaman".

Quote:
Pertama kali ane lihat kata "Duo Pedang" yang muncul di teks iklan adalah "pasti ini acara ". Oh enggak mungkin, hal sensor gini tayang di industri pertelevisian di Indonesia. Akhrnya ane positive thinking, "waah ini pasti acara samurai-samuraian gitu". Oooh damn ternyata salah juga. Akhirnya setelah ane memberanikan diri untuk nonton satu episode saja, anjir ini acara dikit-dikit nyanyi mulu. Gak bete apa yah, narasumbernya, tiap kali ngomong, selalu disela dengan nyanyian si duo jones tersebut. Akibat itu, sumpah ini adalah episode pertama dan terakhir yang ane tonton.

6. "Late Night Show"
Kategori (The Winner): Variety Show


Program yang sebenarnya mencoba meniru judul acara berkualitas di Negeri Paman Sam sana, pada akhirnya menjadi yang terburuk saat diadopsi di Tanah Air. Indeks KPI yang didapatkan program ini jadi paling rendah, yaitu 2,33 saja. Aacara Late Night Show yang dibawakan oleh Raffi Ahmad dan Ayu Dewi ini, ternyata mendapat paling panyak aspek minusnya dari KPI. Ada empat aspek, yaitu,
"Membentuk watak, identitas dan jati idiri bangsa Indonesia yang bertakwa dan beriman", "Menghormati nilai dan norma sosial di masyarakat", "Tidak bermuatan sosial", dan "Tidak Bermuatan mistik, horor, dan supranatural"

Quote:
Hmm no comment.
Ada yang mau komentar tentang acara ini, kenapa bisa jadi yang terburuk?
Ane belum pernah nonton acara ini.


Ayo gan dukung juga acara-acara TV berkualitas seperti ini, agar populer di Indonesia. Setidaknya, dengan menontonnya saja sudah lebih dari cukup. Setelah itu, mulai lah dengan mengedukasi orang-orang yang ada di rumah agan. Jujur, ane pun perlahan sudah mulai melakukan demikian


Ingat loh gan, rating telah menjadi berhala bagi kebanyakan media TV saat ini. Berkat rating juga, pihak stasiun TV bisa meraup iklan. Bisa jadi, acara TV gak berkualitas sekarang ini tetap dipertahankan terus berlanjut, ya karena memang penontonnya banyak. Hal itu juga lah, membuat rating acara "sampah" tersebut terus meningkat dan jam tayangnya selalu di waktu "prime-time". Sementara yang berkualitas? hmmm ironis.


Quote:

Oyah gan, kita enggak usah berharap banyak yah dengan tindakan nyata KPI. "Mereka mah begitu dari dulu." Yang bisa kita lakukan saat ini ialah dimulai dari diri kita dan mengedukasi orang-orang di rumah kita.
Previous
Next Post »