erita
11

Ingatkah kamu dengan 'si Kentung' di film Tuyul dan mbak Yul? ini kondisinya sekarang


Kalau Anda ingat dengan sinetron Tuyul dan Mbak Yul, pastilah sosok ini dulu sangat akrab di ingatan Anda. Dia adalah Kentung. Jin paling gemuk di serial itu. Kemarin, 24 Desember 2014, saya bertemu dengan dia. Bukan dalam kapasitas penggemar dengan artis, tetapi antara seorang pekerja sosial dari Dinsos DIY dengan seorang calon klien. Lansia terlantar.

Kaget? Ya, sangat, seperti saya ketika sehari sebelumnya mendapatkan sms forward bahwa dia adalah calon klien yang dulu pernah main sinetron Tuyul dan Mbak yul. Benarkah dia Kentung yang itu? Ataukah cumi? Ataukah KW2? Kalau memang benar apa yang sedang terjadi?

Tinggal di salah satu kamar kos-kosan di RT 5 RW 15, Ngangkruk, Sardonoharjo, Sleman, dia memang Kentung. Saya ke sana diantar oleh salah seorang relawan dari Forkom Lanjut Usia. Satu kamar yang menjadi terkesan sempit ukuran 3x4, sedikit bau tak sedap, saya benar-benar bertemu Bambang Triyono, pemeran Kentung. Manusia gemuk itu sudah tidak bisa berdiri lagi, hanya duduk di kamar dan kalau mau berpindah tempat, dia glundang -glundung. Memang benar, dia dirujuk ke Dinas Sosial karena keterlantaran hidupnya. Kamar sempit itu sudah ditinggalinya 3 bulan, itu pun lewat biaya yang ditanggung relawan. Kentung benar-benar miskin dan terpuruk.



Sebagai profesional, sudah semestinya saya memasang wajah ceria dan jabat tangan mantap, mencoba mencari tempat duduk yang tidak terlalu berjarak dan posisi tubuh yang dicondongkan ke depan sebagai posisi seseorang yang siap memperhatikan lawan bicaranya. Susah untuk menemukan yang tak berjarak karena di situ hanya ada satu kasur yang 3/4 nya sudah terisi oleh tubuh si Kentung. Dari tetangga kami mendapat pinjaman kursi plastik.

Wajahnya ceria, tanpa perlu saya pantik dengan kalimat-kalimat pembuka atau basa basi sebagai peluruh suasana dia sudah bocor bercerita ngalor-ngidul. Sesungguhnya saya merasa nggak nyaman, karena apa yang dia bicarakan hampir seluruhnya adalah kisah-kisah sukses dia, riwayat-riwayat karier dia ketika sukses, kenalan-kenalan dia yang dari berbagai lapisan, dan saya sama sekali tidak menangkap apa yang saya butuhkan: mengapa dia sampai di sini dan berstatus sebagai orang terlantar?

Walhasil, seperti merangkai mozaik, lewat pemotongan pembicaraan agar sesuai rel, saya berhasil meraba benang merahnya.

Kentung memang terlahir sebagai artis. Sejak kecil dia sudah terkenal karena kegemukannya. Pernah dimuat di harian lokal, sampai kemudian masuk MURI sebagai manusia tergemuk. Dari situ dia ditarik untuk ikut meramaikan panggung komedian seperti Srimulat, sekitar tahun 68, dan juga panggilan-panggilan sebagai artis pembantu untuk beberapa film. Uang bukan perkara susah baginya. Ibaratkan saat ini, sehari mengeruk lima juta rupiah atau bahkan lebih, sudah biasa. Sayang, bahwa rupiah yang mengalir ke kantongnya seolah tanpa berkah. Sehari dia mendapat uang, sehari itu pun uang bisa habis tanpa sisa. Sangat royal. Kebiasaan buruk dia adalah mabuk, entah sebelum manggung ataupun sesudah manggung, atau kapanpun dia diundang. Ibaratkan, mabuk pun dia dibayari. Urusan mabuk bagi dia merupakan kebiasaan umum bagi para selebritis, termasuk pelawak. Maka bagi dia, ketika ada artis masuk bui gara-gara narkoba, dia tidak heran. Sudah bukan rahasia lagi kalau pelawak-pelawak yang dia kenal memang pecandu narkoba semua.





Kebiasaan buruk lainnya adalah, mental dia yang memang bukan mental seorang terhormat. Dia biasa tidur dari satu terminal ke terminal, dari stasiun ke stasiun tanpa pernah nyaman untuk hidup normal dengan punya rumah.

Dia menikah, punya istri dan kemudian punya anak. Istri yang polos dan tidak pernah menuntut macam-macam. Sampai suatu ketika, kelumpuhan yang mungkin karena jatuh stroke, segalanya berubah. Tahun 2010 dia sudah tidak bisa lagi beraktifitas termasuk dalam pemenuhan hasrat biologis. Istrinya menceraikannya tahun 2011. Sejak saat itulah dia frustrasi. Tanpa penghasilan, dia menggelandang dari satu tempat ke tempat lain dan melakukan pekerjaan apapun. Kadang meramal, kadang pijit, di tempat apapun, termasuk dari terminal ke terminal. Keinginan bunuh diri sudah berulangkali terjadi. Teman-teman, relasi dan siapapun yang berduit yang dia harapkan bisa mengangkat kehidupannya, semuanya pergi. Pertemanan dalam dunia selebritis itu kejam, karena segala keakraban tidak lebih dari sekedar show bisnis, cari proyek, ataupun cari sensasi untuk mendongkrak popularitas. Ketika seseorang sudah terpuruk seperti dia, ibarat sampah, jangankan ditolong, semisal ketemu di jalan, menoleh pun tidak. Diusir dari satu tempat ke tempat lain, akhirnya dia ditemukan kader lansia dan ditempatkan di kost sederhana ini. Makan apa adanya, kalaupun sehari hanya bisa masuk tiga sendok nasi, itu sudah alhamdulillah. Anaknya sesekali mengunjunginya, anaknya tak bisa banyak menolongnya karena penghasilan sebagai tukang cuci piring tentulah tak seberapa. Sekarang, dia mengharap kami dari pemerintah untuk mengulurkan tangan kepadanya. 
Demikian yang berhasil saya rangkum, karena selalu dan selalu dia meloncat pada peristiwa-peristiwa heboh yang ada dalam hidupnya.

(Sungguh, telinga saya paling capek kalau harus mendengar kisah sukses seseorang yang sekarang ini jadi terpuruk, dengan harapan untuk disanjung atau dipuji. Tak ada hikmahnya. Akan lebih berharga jika dia bisa bercerita jujur, mengapa dia terpuruk, sebagai hikmah yang mungkin bisa berharga bagi orang lain. Tetapi begitulah, entah mereka yang jatuh terpuruk, atau lansia yang sudah tak beraktifitas, rata-rata akan rajin mengulang dan mengulang dan mengulang dan mengulang.....kisah-kisah hebatnya..sebagai katarsis atau sebagai penghibur hatinya, tanpa peduli betapa capeknya mereka yang mendengar. Sebagai pekerja sosial profesional, kuping harus tahan dan harus dilatih untuk seperti itu. Masa lalu yang gemilang adalah hiasan kisah hidup terindah bagi mereka yang terpuruk, tetapi sungguh menguras energi bagi mereka yang mendengarkan.)

Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Secara, usia dia belum termasuk lansia, dan perhatian yang semestinya dia butuhkan tak bisa dipenuhi oleh PSTW (butuh tempat tidur khusus, butuh 4 orang untuk membantu dia bergerak, butuh kursi roda khusus).

Lewat ijin dia, saya diperkenankan untuk meliput kisah hidupnya ini dan harapannya agar ada pihak yang berempati. Apapun itu, bisa langsung ke TKP untuk bertemu yang bersangkutan. Bantulah dia...
Previous
Next Post »