erita
11

Ternyata Pembuatan Anime Brutal Banget! Ini Dia Beberapa Hal Yang Harus Kamu Tahu


Salah satu kebanggan Jepang adalah industri animasi. Anime, biasa sebutan untuk kartun Jepang sudah menjadi identitas bagi negara ini. Untuk menyelenggarakan olimpiade saja, pemerintah menetapkan Doraemon sebagai maskotnya. Dunia kadung mengenal Jepang lekat dengan budaya populer.
Di balik kisah membanggakan ini ternyata terdapat perbudakan yang tak berprikemanusiaan. Eksploitasi terjadi di industri anime. Pekerja diperlakukan tak banyak, meskipun mengerjakan sebuah anime hits. Ini dia beberapa fenomena pembuatan anime yang akan membuat kamu tercengang:

Jam Kerja Berlebihan

{source name="Gini amat dah" url="www.deviantart.com"}
Gini amat dah via deviantart.com
Untuk mencapai kesempurnaan di bidang animasi, orang Jepang tak ragu untuk bekerja keras. Standarnya seseorang bisa bekerja 12-14 jam per harinya untuk menyelesaikan satu episode. Ketika sebuah episode mencapai klimaks cerita, pekerjaan yang dibutuhkan bisa lebih berat lagi. Alhasil banyak pekerja yang gak bisa tidur dengan nyenyak atau menjalani hidupnya dengan tenang.

Gaji Di Bawah UMR

Seorang Amerika yang memutuskan bekerja di Jepang merasakan pahitnya bekerja di Jepang. Di studio kecil tempat awalnya bekerja, satu gambar dihargai $1 dan sekitar $5 sampai $25 sehari. Ketika dia pindah ke kantor yang lebih besar dan salah satu yang paling top, dia tidak dihargai lebih mahal, satu gambar hanya berharga $2-$4 dan rata-rata $40 sehari. Dengan penghasilan sebulan kira-kira $1000 atau hanya 120.000 yen tentu saja penghasilan itu sangatlah rendah.
Sedangkan, biaya yang harus dikeluarkan untuk hidup di Tokyo idealnya adalah 1,500,000 yen per tahun tentu saja sang penggambar tak bisa hidup layak.

Tempat Kerja Yang Tidak Ideal

{source name="Tempat Kerja Yang Sempit" url="www.buzzfeed.com"}
Tempat Kerja Yang Sempit via buzzfeed.com
Jangan bayangin tempat untuk mengerjakan sebuah anime itu mewah. Kebanyakan studio anime tidak mempunyai kantor seperti perusahaan beneran. Bahkan mereka tetap keukeuh untuk bekerja di satu lantai ruangan apartemen yang disewa khusus. Selain itu, ruangan kerja biasanya berantakan dan orang-orang berdesak-desakan.

Tidak Ada Jaminan Kerja Jangka Panjang

Kebanyakan orang yang bekerja di sebuah anime, sebesar apapun animenya pekerja yang dipakai adalah pekerja tidak tetap. Studio lebih memilih untuk menggunakan pekerja freelance dengan alasan penghematan biaya produksi. Sistem gajinya? Seorang pegawai bisa digaji per episode, per cut, per frame quality atau per unit price.
Kalaupun ada yang beda biasanya berhubungan dengan art, photography, editing atau ilustrator. Biasanya mereka diambil dari perusahaan lain. Tapi, biaya untuk membayar mereka juga kecil kurang dari 1.000.000 yen.

Kerja Bagai Robot

Meskipun banyak masalah terjadi, kebanyakan pekerja di Jepang tidak pernah melakukan komplain. Dikarenakan para pembuat anime kebanyakan bermula dari pecinta anime. Mereka jarang bersosialisasi dengan orang dan menghabiskan hidupnya dengan anime.
Hal yang paling aneh adalah mereka jarang sekali ngobrol satu sama lain dan bahkan jarang meluangkan waktu untuk istirahat. Seakan-akan mereka diprogram untuk mengerjakan karya seni terbaik dan diminta untuk tidak berpikir selayaknya manusia.

Seringkali Duit Profit Sebuah Anime Tidak Masuk Ke Perusahaannya

Tentunya, dua hal di atas bisa membuat kamu bertanya-tanya, lah animenya laku-laku aja tuh kenapa susah banget dah ngegaji pegawainya?
Jawabannya adalah karena profit yang didapatkan tidak selalu mengalir ke rumah produksi. Misalnya merchandising yang sudah menjadi bisnis wajib dijalankan oleh sebuah franchise. Begitu pun dengan penyiaran, duitnya kebanyakan dinikmati tv ataupun media yang menyiarkan. Dalam artian, sebuah studio tak pernah peduli memproteksi karyanya dan merelakan keuntungan kerjanya dinikmati orang lain.

Jalur Produksi

Gimana sih sebuah produksi anime itu berjalan? Kira-kira gini nih gambarannya:
bagan-produksi
Apakah semua hal di atas perlu untuk sebuah art? Tentu hal itu bisa dipertanyakan lagi. Satu hal yang pasti, karya seni yang dibuat tidak dengan hati akan berakhir jelek dan tidak berguna bagi penontonnya.
Sumber:
Previous
Next Post »