erita
11

Demi Sesuap Nasi, Nenek 109 Tahun ini Jualan Kacang Rebus di Stasiun Tugu Yogya

Demi Sesuap Nasi, Nenek 109 Tahun ini Jualan Kacang Rebus di Stasiun Tugu Yogya
Mengenakan kebaya tua warna coklat, kerudung warna merah tua serta jarik yang sudah lusuh Mbah Tumirah sepertinya tak pernah alfa menggelar lapak dagangannya di parkir selatan Stasiun Tugu Yogyakarta.
Dagangannya, hanyalah dagangan sederhana. Berupa kacang sangrai yang ia masak sendiri lalu dikemas menggunakan bungkus plastik sederhana.
Tentu sangat berbeda dengan kacang goreng yang dikemas dengan bungkus bermerk yang dijajakan di toko modern yang berada tak jauh dari lapak Mbah Tumirah.
Saat ditemui Sabtu (16/52015), Mbah Tumirah sudah menggelar lapaknya yang berada diantara sepeda motor yang diparkir.
Alasnya berupa kain dan dipasang payung berwarna hijau yang sudah rusak. Kacang-kacang yang sudah dibungkus, ia tata rapi diatas nampan usang.
Siapa tahu dengan ditata begitu, banyak calon pembeli yang lebih tertarik. Sementara di bagian yang lain, kacang-kacang yang belum dibungkus dibiarkan menumpuk.
Demi Sesuap Nasi, Nenek 109 Tahun ini Jualan Kacang Rebus di Stasiun Tugu Yogya d“Den kacange den.. neng kacange neng.. ,” serunya menawarkan barang dagangannya kepada siapa saja yang kebetulan lewat.
Namun, tidak banyak yang tertarik. Terkadang dilirik saja tidak. Tapi jika sedang bernasib baik, 10 kilogram kacang sangrai yang ia bawa biasanya habis saat menjelang maghrib atau isya.
Demi Sesuap Nasi, Nenek 109 Tahun ini Jualan Kacang Rebus di Stasiun Tugu Yogya a“Lima ribuan saja mas,” ujar nenek berusia 110 tahun ini.
Adapun, Mbah Tumirah sudah berjualan kacang sangrai di parkir selatan Stasiun Tugu Yogyakarta sejak tahun tahun belakangan ini.
Lantaran usianya yang sudah senja, ia pun kerap kali kesulitan untuk berjalan. Sehingga ia memilih antar jemput menggunakan becak saat pergi maupun pulang. Lantas apa yang membuatnya tetap semangat berjualan?
Ternyata warga Sosrowijayan, Gedong Tengen, Yogyakarta ini tak mau merepotkan siapapun. Sepanjang masih mampu, ia ingin mencari uang sendiri. Sukur-sukur saat ada keuntungan lebih, bisa berbagi dengan 9 cucu dan 22 buyutnya.
Demi Sesuap Nasi, Nenek 109 Tahun ini Jualan Kacang Rebus di Stasiun Tugu Yogya e“Juga biar gak nganggur di rumah terus,” ujar nenek yang pernah merasakan masa penjajahan Belanda di Yogyakarta ini.
Nenek berusia 109 tahun tersebut mengatakan saat penjajahan Jepang dia jarang makan karena takut keluar, karena banyak tentara Jepang kerap berpatroli di sekitaran rumahnya di Sosrowijayan, Gedongtengen, Kota Yogyakarta.
“Zaman penjajah Jepang, sama makan sehari bisa untuk dua atau tiga hari. Karena takut keluar, enggak punya makanan di rumah. Takut kalau diculik Jepang,” katanya pada merdeka.com, Sabtu (16/5).
Demi Sesuap Nasi, Nenek 109 Tahun ini Jualan Kacang Rebus di Stasiun Tugu Yogya bBahkan karena begitu takut dengan Jepang, dia dan suaminya membuat lubang persembunyian di bawah rumahnya. Untuk menyembunyikan lubang tersebut, dia dan suaminya merobohkan rumahnya sehingga Jepang menyangka penghuni rumah sudah pergi.
“Saat itu anak saya masih kecil, itu pas Jepang datang, suami saya ya meninggal pas zaman Jepang,” ujar nenek yang mengaku memiliki 7 cucu dan 22 cicit ini.
Saat suami sudah tiada dia bekerja sebagai buruh cuci pakaian dan juga buruh tani di ladang. Masa itu disebut sebagai masa yang begitu sulit. Kondisi mulai berubah ketika Indonesia merdeka dan Yogyakarta bergabung dengan Indonesia.
Demi Sesuap Nasi, Nenek 109 Tahun ini Jualan Kacang Rebus di Stasiun Tugu Yogya c“Saya dari dulu tinggal ya di situ (Sosrowijayan) jadi bisa merasakan bagaimana perubahannya dari zaman Jepang dan zaman Kemerdekaan,” ungkapnya.
Jika membandingkan zaman sekarang dengan zaman dulu, dia mengaku hidup lebih enak pada zaman dulu, sebab jika tidak punya uang untuk makan dia masih bisa makan dengan hasil kebun.
“Sekarang itu duit Rp 100 enggak bisa buat apa-apa, kalau dulu satu sen saja sudah bisa makan kenyang. Sekarang seribu saja makan enggak kenyang,” tandasnya.
Previous
Next Post »